Hukum Aqiqah

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Aqiqah adalah suatu ketetapan sunnah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasalam yang penting untuk dilaksanakan, mengingat adanya manfaat yang bisa diperoleh baik untuk sang anak itu sendiri atapun untuk kedua orang tuanya. Dikalangan para ulama fikih ulama berbeda tentang penilaian status hukum aqiqah, ada yang mengatakan wajib dan juga ada yang mengatakan sunnah. Tetapi mereka sepakat kalau aqiqah adalah ibadah yang baik untuk dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kedua orang tua kerena telah memiliki putra. Perbedaan ini dilatar belakangi salah satunya oleh hadist Nabi: “Setiap anak yang lahir kedunia itu murtahanun (tergadai) dengan aqiqahnya” Bertolak dari kata “murtahanun” (gadai) inilah ada perbedaan interpretasi hukum aqiqah, diantara ulama yang mengatakan bahwa hukum aqiqah adalah wajib adalah Daud Adz-Dzahiri dan orang-orang yang sependapat dengan beliau. Sifat gadai adalah hutang, ketika kita berhutang kepada orang lain tentunya kita memiliki kewajiban untuk membayar hutang tersebut bukan? nah, hutang kepada manusia saja harus dilunasi apalagi ketika kita memiliki hutang dengan Allah shubhanahu wataala. Di lain pihak para  ulama (mayoritas ulama) menilai bahwa hukum aqiqah adalah mustahab atau sunnah. Memang tidak berdosa orang yang tidak melakukannya akan tetapi akan kehilangan manfaat dan hikmah aqiqah yang besar. Ketika kita menggadaikan suatu benda yang itu menjadi kebanggaan dan benda tersebut memiliki manfaat yang besar bagi pemiliknya, kira-kira apa yang akan ia lakukan? tentunya ia akan melakukan upaya sekuat tenaga untuk menebus kembali benda tersebut agar menjadi miliknya lagi secara utuh bukan? saudara-saudara sekalian, anak-anak yang kita miliki adalah sesuatu yang sangat membanggakan bagi orang tuanya dan akan memberikan mafaat bagi pemiliknya.
©2020 Dapur Aqiqah

Search